Jumat, 19 Oktober 2018

Perbaikan Tanah Dasar Jalan Raya dengan Penambahan Kapur


PERBAIKAN TANAH DASAR JALAN RAYA DENGAN PENAMBAHAN KAPUR



ABSTRAK

Tanah lempung Besitang adalah salah satu jenis tanah yang menimbulkan banyak kerusakan karena sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan kadar air, sehingga menyebabkan penurunan kuat geser. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan tanah dengan penambahan kapur untuk meningkatkan sifat fisis dan mekanis.
Penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki sifat fisis dan mekanis di uji di laboratorium yang terdiri dari uji identifikasi dan uji karakteristik tanah. Uji batasan Atterberg, analisa saringan, dan berat jenis dilakukan untuk mengetahui peningkatan sifat fisis, dan uji pemadatan dengan standart proctor dan kuat geser dengan Direct Shear Test untuk mengetahui perubahan sifat mekanis.Pengujian ini dilakukan pada variasi campuran tanah lempung yang dicampur dengan kadar kapur 2 %, 4 %, 6 %, 8%, 10 %. 
Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa tanah lempung Besitang dengan campuran kapur dapat menurunkan plastisity indeks sebesar 39.15 %, dan menaikkan berat isi kering sebesar 0.114gr / cc pada penambahan kapur dari 0 % ke 10 %, dan menaikkan persentase lolos saringan sebesar 4.7 % pada penambahan kapur 10 %, dan menaikkan berat jenis sebesar 12 % pada penambahan kapur 10 %. Pada pengujian kuat geser langsung nilai kohesi meningkat dari 0.16 kg /cm 2 menjadi 0.59 kg / cm 2, dan peningkatan juga terjadi pada nilai sudut geser sebesar  4 .20 0 pada penambahan kapur dari 4 % ke 6 %.

1.                       PENDAHULUAN

Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran), mineral-mineral padat yang tersedimentasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan organic yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi setiap ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. Ukuran dari setiap butiran tanah sangat bervariasi dan sifat fisis dari tanah samgat tergantung dari factor-faktor ukuran, bentuk dan komposisi kima dari butiran. Tanah pada umumnya terdiri dari kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (silt) atau lempung (clays). Jenis ini sangat tergantung pada partikel-partikel yang paling dominan pada tanah tersebut dari segi mineral yang disebut tanah lempung adalah yang mempunya partikel-partikel mineral tertentu yang menghasillkan sifat plastis pada tanah apabila dicampur dengan air, jadi dari segi mineral tanah dapat juga disebut bukan tanah lempung meskipun terdri dari partikel-partikel yang sangat kecil
Perilaku tanah lempung, terutama kuat uji geser perlu diselidiki, karena sebagian besar tanah yang ada di Indonesia termasuk dalam kategori tanah lempung. Salah satunya tanah yang berada di daerah Besitang, Sumatera Utara. Ada beberapa sifat-sifat tanah lempung yang perlu diperhatikan dalam suatu proyek bangunan, yaitu  permeabilitas, pemampatan dan kuat tekan, sedangkan sifat fisis, yaitu  batas konsistensi, kadar air, perbandingan ruang kosong (void ratio), kerapatan relatif, ukuran butiran.
Permasalahan yang biasanya timbul dari tanah lempung ini yaitu tingkat
sensitifitasnya yang terlalu tinggi terhadap perubahan kadar air, sehingga perlu dilakukan stabilisasi, diantaranya dengan menggunakan kapur sebagai bahan stabilisasi.
Diharapkan setelah melakukan stabilisasi, sensitifitas tanah lempung terhadap kadar air akan semakin rendah. Sehingga tanah lempung  dapat digunakan sebagai  penopang  pondasi bahan konstruksi. 
Tanah lempung mengembang merupakan masalah global dalam bidang sipil banyak daerah di Indonesia yang memiliki jenis tanah lempung mengembang di Indonesia pulau sumatera khususnya di Besitang Sumatera Utara. Di daerah tersebut tanah lempungnya masih tergolong tanah lempung yang kurang baik apabila digunakan sebagai penopang pondasi bangunan konstruksi apapun terutama konstruksi jalan raya.
Tanah lempung mengembang merupakan tanah yang memiliki tingkat sensitifitas tinggi dan mempunyai sifat kembang susut yang dapat menimbulkan kerusakan pada bangunan yang berdiri diatasnya, tanah ini juga memiliki potensi mengembang dan menyusut sangat tinggi akibat perubahan kadar air didalam tanah. Tanah lempung mengembang mempunyai daya dukung yang cukup baik, bila dalam keadaan tidak jenuh air dan buruk bila dalam keadaan jenuh air.
Sehingga perlu dilakukan alternatif perbaikan tanah lempung mengembang untuk mendapatkan tanah yang lebih stabil. Dalam hal ini langkah yang diambil adalah dengan menstabilisasi tanah lempung dengan mengubah sifat fisis dan mekanis tanah sehingga kekuatan dan daya dukungnya dapat meningkat. Peningkatan kekuatan daya dukung akan mengakibatakan tanah lempung Besitang menjadi lebih stabil dan mampu mendukung beban dari permukaan yang lebih besar tanpa mengakibatkan terjadi suatu deformasi yang besar. Tanah lempung Besitang ini juga termasuk kedalam tanah lempung yang mengembang yang mempunyai nilai liquid limit dan plastis limit yang tinggi untuk menurunkan nilai – nilai tersebut stabilisasi kapur diharapkan dapat menurunkan nilai- nilai tersebut. Stabilisasi yang diuraikan dalam penelitian ini adalah stabilisasi tanah lempung dengan menambah kapur yang dapat menyebabkan perubahan fisis dan mekanis pada tanah.

2. METODE PENELITIAN

Bahan uji yang diteliti yaitu tanah lempung yang diambil dari daerah Besitang Sumatera Utara. Pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara menggali langsung tanah dengan kedalaman 1 meter – 1.50 meter. Sampel tanah tersebut ada 2 yaitu sampel tanah terganggu (Disturbed Samples) yang dimasukkan ke dalam kantong plastik dan tanah yang tidak terganggu (Undisturbed Samples) yang dimasukkan ke dalam pipa paralon.
Kapur yang digunakan dalam percobaan ini adalah jenis kapur padam yang
banyak didapatkan di toko – toko bahan bangunan.
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang dilaksanakan di Laboratorium Mekanika Tanah Institut Teknologi Medan. Pada benda uji dilakukan terlebih dahulu pengeringan sampai tercapai kondisi kering udara. Persiapan sampel untuk propertis, tanah dihancurkan dan selanjutnya dilakukan penyaringan dengan saringan No. 40. Kemudian dilakukan uji Atterberg, analisa ukuran butiran, pemadatan, berat jenis dan uji kuat geser (Direct Shear Test)        

2.1. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan jurusan Teknik Sipil Institut teknologi Medan ( ITM ). Adapun pelaksanaan penelitian meliputi :
-          Tahapan persiapan
-          Tahapan penelitian pendahuluan
-          Pengujian utama

2.2. Tahapan Pelaksanaan Pengujian

Manfaat hasil pengujian di laboratorium, sangat tergantung pada tahapan
persiapan contoh tanah yang akan digunakan, yaitu meliputi : 
-          Pengambilan tanah dari daerah Besitang, Sumatera Utara 
-          Prosedur pengambilan tanah dari lapangan
-          Penyediaan kapur sebagai bahan stabilisasi 
-          Serta pembuatan benda uji di laboratorium 

2.3. Tahapan Penelitian Pendahuluan

Adapun tiga pengujian yang dilakukan terlebih dahulu pada tahapan
penelitian pendahuluan yaitu indeks propertis, antara lain :
-          Analisa saringan ( Sieve Analysis )
-          Berat jenis ( Spesific Gravity )
-          Batas konsistensi ( Atterberg Limit )
-          Pemadatan ( compaction )
Pengujian pendahuluan ini bertujuan untuk mencari sifat – sifat fisis tanah.

2.4. Pelaksanaan Pengujian Kuat Geser Langsung

Pelaksanaan pengujian kuat geser langsung dilakukan di laboratorium Mekanika Tanah Institut Teknologi Medan. Lamanya pelaksanaan penelitian ini disesuaikan dengan waktu yang diperlukan untuk dapat memperoleh keseluruhan data data hasil pengujian. Untuk pelaksanaan pengambilan contoh dilakukan dengan dua tahapan, yaitu :
-          Pengujian dengan tanah yang tidak terganggu ( Undisturbed Samples )
-          Pengujian dengan tanah yang terganggu ( Disturbed Samples ), yang telah dicampur dengan kapur padam dengan masing – masing persentase panambahan kapur adalah 0 %, 2 %, 4 %, 6 %, 8 %, 10 %.
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar manfaat
kapur yang digunakan sebagai bahan stabilisasi pada tanah lempung terhadap nilai kuat geser.
Pengujian kuat geser langsung dilakukan dengan menggunakan kotak geser yang berbentuk lingkaran sesuai dengan gambar 3.2.1a. Contoh tanah yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk cincin 3.2.3a dan diletakkan diantara dua buah batu berpori 3.2.2a ( porous stone ). Kemudian contoh tanah diletakkan dalam kotak geser dan ditempatkan pada alat kuat geser langsung dengan pembebanan sebesar 10 kg, 20 kg, 30 kg. Ada tiga buah dial yang digunakan dalam pengujian ini yaitu dial deformasi horizontal, dial deformasi vertikal, dan dial proving ring, dial deformasi vertikal diletakkan dibagian atas kotak geser, sesuai dengan gambar 3.2b, dan laju pergerakan geser harus diantara 0.02 sampai 0.1 inchi / menit ( 0.27 sampai 6.36 mm / menit ). Pembacaan dial vertikal dilakukan berdasarkan waktu yang telah ditentukan, dan pembacaan dial proving ring dilakukan berdasarkan pembacaan terhadap dial horizontal. Pembacaan dial proving ring bertujuan untuk mendapatkan beban horizontal pada contoh tanah.       

 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Pengaruh Penambahan Kapur Terhadap Berat Jenis

Nilai berat jenis pada kondisi asli adalah 2,71 dan setelah penambahan kapur 2 % berat jenis  menjadi 2,72 , 4 % adalah 2,74 , 6 % adalah 2,76 , 8 % adalah.2,79 , 10 % adalah 2,83. Peningkatan nilai dari asli ke penambahan kapur 2 % adalah 1 % , 2 % ke 4 % adalah 2 % , 4 % ke 6 % adalah 2 % , 6 % ke 8 % adalah 3 % , dan 8 % ke 10 % adalah 4 %.
Penambahan kapur terhadap tanah menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan nilai berat jenis seiring dengan bertambahnya persentase kapur yang digunakan ( Gambar 1 ). Hal ini disebabkan, karena bercampurnya antara dua bahan dengan berat jenis yang berbeda.
Selain itu, campuran kapur dengan tanah mengakibatkan mengecilnya rongga –
rongga pori yang telah ada dan merekatkan partikel – partikel tanah, sehingga sebagian tanah akan dikelilingi bahan kapur yang lebih keras dan lebih sulit ditembus air. Rongga pori yang terisolasi oleh lapisan kapur akan terukur sebagai volume butir sehingga memperbesar volume butir.
Tabel 1 Hasil Uji Penambahan Kapur Terhadap Berat Jenis
No
Kapur %
Berat Jenis
1
0
2.71
2
2
2.72
3
4
2.74
4
6
2.76
5
8
2.79
6
10
2.83

Gambar 1 Hubungan Antara % Kapur dengan Berat Jenis

3.2. Pengaruh Penambahan Kapur Terhadap Batas Konsistensi

Hasil uji batas konsistensi menunjukkan bahwa penambahan kapur mampu
meningkatkan plastisitas tanah. Dari uji yang dilakukan menunjukkan bahwa penambahan kapur dapat menurunkan plastisitas indeks tanah. Hal ini disebabkan terjadinya penurunan nilai batas cair, meningkatkan nilai batas plastis dan nilai batas susut. Penurunan indeks plastisitas dapat menyebabkan penurunan nilai potensial pengembangan. Nilai batas konsistensi dapat dilihat pada gambar 2 sampai gambar 5 dibawah ini.
Tabel 2 Hasil Uji Atterberg Terhadap Penambahan Kapur
No
Kapur %
Batas Cair LL
Batas Plastis
PL
Indeks
Plastisitas
PI
Batas
Susut
SL
1
0
80.62
17.71
62.91
22.39
2
2
75.12
21.13
53.99
27.37
3
4
73.11
23.18
49.93
30.09
4
6
66.34
31.68
34.66
36.61
5
8
65.66
34.84
30.82
40.27
6
10
62.89
39.13
23.76
47.75


3.3. Pengaruh Penambahan Kapur Terhadap Gradasi Butiran.
Hasil uji gradasi uji tanah untuk tanah asli menunjukkan bahwa jumlah butiran
halus lolos saringan nomor 200 adalah 38,34 % dan setelah penambahan persentase kapur 10 % menjadi 33,64 %, menyebabkan perubahan komposisi fraksi, yaitu bertambahnya fraksi tertahan saringan no. 200
Perubahan ini menyebabkan gradasinya beragam. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya penggumpalan akibat proses penambahan kapur, sebagian partikel berubah ukuran menjadi lebih besar.


3.4. Pengaruh Penambahan Kapur Terhadap Pemadatan.
Karakteristik pemadatan adalah kepadatan ( densitas ) kering atau volume kering maksimum ( MDD ) dan kadar air optimum ( OMC ). Hasil uji pemadatan menunjukkan bahwa penambahan persentase kapur memperlihatkan kecenderungan peningkatan berat volume kering maksimum, ( gambar 7 ). Dari gambar dapat dilihat nilai kadar air maksimum, berat isi kering untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3. Hal ini disebabkan karena mengecilnya rongga – rongga antara partikel campuran tanah akibat penambahan kapur. Kenaikan berat volume kering maksimum, salah satu penyebabnya adalah semakin merapat jarak antara partikel tanah, sehingga tanah lebih padat dan terjadi penurunan kadar air optimum.

Tabel 3. Hasil Uji Pemadatan 
No
Kadar Kapur
( % )
W optimum ( % )
γD Maksimum
( gr / cc )
1
0
27,5
1,414
2
2
26,6
1,424
3
4
26,0
1,471
4
6
25,8
1,476
5
8
25,5
1,516
6
10
25,0
1,528




3.5. Pengaruh Penambahan Kapur Terhadap Kuat Geser Langsung

Pengujian kuat geser langsung dilakukan untuk mengetahui nilai kohesi dan
sudut geser yang terjadi pada tanah. Pengujian di laboratorium sangat dipengaruhi oleh metode pembuatan contoh tanah selain jenis dan kepadatan contoh tanah.
   Hasil pengujian kuat geser langsung terhadap panambahan kapur dapat dilihat pada tabel4.  
Tabel 4 Hasil pengujian kuat geser 
No
Kadar Kapur 
( % )
Kohesi
(Kg/ cm2)
Sudut Geser Dalam ( 0
)
1
0
0,16
22,8
2
2
0,28
26,4
3
4
0,46
28,5
4
6
0,59
32,7
5
8
0,52
36,0
6
10
0,41
39,6

Grafik hubungan antara tegangan normal dan tegangan geser untuk setiap variasi penambahan kapur dapat kita lihat pada gambar 8.

3.6. Hubungan Persentase Kapur Dengan Nilai Kohesi Dan Sudut Geser

Besarnya kuat geser tanah dipengaruhi oleh kualitas dari bahan, lekatan antar butiran dan kepadatannya. Kualitas bahan berhubungan erat dengan kekasaran dan kekuatan. Bahan keras artinya tidak mudah hancur dan menjadi butir – butir yang lebih kecil atau berubah bentuk, karena pengaruh perubahan kadar air.
Ikatan antara butir merupakan kemampuan saling mengunci antar butiran, dan
adanya rekatan yang merekatakan permukaan butiran tersebut. Semakin kuat ikatan antar butir akan menghasilkan nilai kuat geser semakin tinggi dan begitu pula sebaliknya. Dapat dilihat bahwa hasil pengujian menunjukkan nilai kuat geser efektif terjadi pada penambahan 6 % kapur sebesar 0.59, walaupun penambahan kapur lebih tinggi akan menghasilkan nilai kuat geser tidak jauh berbeda. Maka penambahan kapur yang paling efektif  adalah antara 0 % sampai 6 %.
Dari analisa yang dilakukan sebagaimana diuraikan diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa stabilisasi dengan kapur pada tanah lempung ini dapat memperbaiki sifat fisis dan mekanis tanah. Penambahan kapur pada tanah lempung akan mengakibatkan daya dukung sebanding dengan peningkatan kuat geser tanah.

4. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang  telah dilakukan, dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut :
1.      Hasil uji Atterberg dengan variasi kapur 0 %, 2 %, 4 %, 6 %, 8 %, 10 %  terjadi penurunan nilai indeks plastisitas sebesar 39.15 % dari penambahan kapur 0 % ke 10 %.
2.      Hasil uji pemadatan diperoleh peningkatan berat isi kering ( MDD ) sebesar 0.114 gr / cc dari penambahan kapur 0 % ke 
10 %, dan penurunan terhadap kadar air optimum ( OMC ) sebesar 2.5 % dari penambahan kapur   0 % ke 10  %.
3.      Hasil uji kuat geser langsung terhadap penambahan kapur adalah terjadinya peningkatan nilai sudut geser sebesar 4.20 0 dari penambahan kapur 4 % ke 6%, dan menunjukkan peningkatan nilai kohesi maksimum pada penambahan 6 % kapur
sebesar 0.59 kg / cm 2       

DAFTAR PUSTAKA

Arfan Muhammad ( 2002 ), ” Pengaruh Kapur Pada Tanah Eksfansif Mengandung Batu bara Terhadap Kuat Geser ”, Teknik Sipil, UGM. 
Bowles Joseph. E ( 1991 ), ” Mekanika Tanah ” edisi 2, Erlangga, Jakarta.
Das. B. M ( 1991 ), ” Mekanika Tanah ( Prinsip – prinsip Rekayasa Geoteknis ) ”, jilid 1 dan 2, Erlangga, Jakarta.
Fitrianto Adi ( 2002 ), ” Perbaikan Sifat Teknis Tanah Negeri Lama Rantau Parapat Dengan Stabilisasi Semen Tiga Roda ”, Teknik Sipil, ITM.
Ingless. O. G dan Metcalf ( 1972 ), ” Soil Stabilization ”, Sydney, Butterworth.
Sinaga Masdinar ( 2003 ), “ Meningkatkan Daya Dukung Tanah Lempung Besitang Dengan Cara Stabilisasi Semen Padang “, Teknik Sipil, ITM.
Waruwu A’azokhi ( 2003 ) “ Pengaruh Penambahan Semen Pada Tanah Lempung Terhadap Nilai CBR ”, Teknik Sipil, ITM.



Kamis, 26 Oktober 2017

Tugas Tanah Mekanis 2

TUGAS KEDUA

1. Sebutkan alat- alat berat yang sering digunakan pada pekerjaan konstruksi!
2. Jelaskan perbedaan dan persamaan fungsi alat bulldozer dan motor grader!
3. Jelaskan cara kerja Bulldozer !
4. Jelaskan cara kerja Exavator !
5. Jelasakan perbedaan fungsi alat Dum truk dengan Trailer!



JAWAB

1. Alat- alat berat yang sering digunakan pada pekerjaan konstruksi:
⦁ DOZER
Dozer merupakan traktor yang dipasangkan blade dibagian depannya. Blade berfungsi untuk mendorong, atau memotong material yang ada didepannya. Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah.

⦁ MOTOR GRADE
Motor Grader adalah salah satu jenis traktor dengan fungsi sebagai perata bentuk permukaan tanah, biasanya digunakan dalam proyek jalan untuk membuat kemiringan tertentu suatu ruas jalan. Dengan blade yang dapat diatur tingkat kemiringannya.

⦁ EXCAVATOR
Excavator, backhoe atau shovel adalah suatu alat berat yang diperuntukkan memindahkan suatu material, sehingga dapat meringankan pekerjaan yang berat apabila dilakukan dengan tenaga manusia.


⦁ LOADER
Adalah mesin yang digunakan untuk memindahkan tanah yang sudah dikumpulkan buldozer ke dump truck. Loader memiliki bentuk yang hampir mirip dengan bulldozer namun bucket loader dapat diangkat dengan ketinggian tertentu dan digunakan sebagai alat pemuat. Loader dapat digunakan untuk material tanah yang telah terurai atau tidak keras.
⦁ TRUK
Merupakan alat berat yang berfungsi untuk memindahkan material – material dalam jumlah yang banyak. Ada berbagai jenis truk yang ada di alam semesta ini misalnya dump truck, articulated dump truck, off highway truck.
⦁ TIANG PANCANG
Proyek-proyek besar seperti gedung pencakar langit memerlukan fondasi yang kuat untuk menyangga beban yang besar di atasnya. Jika daya dukung tanah dilokasi tidak memungkinkan untuk menahan beban yang besar,, fondasi semacam ini sangat diperlukan. Bentuk dari pondasi yang umum dipakai sebagai penyangga bangunan adalah pondasi tiang.

⦁ DOUBLE DRUM ROLLER
Double Drum Roller terdiri atas berporos 2 (two axle) dan berporos 3 (three axle tandem rollers). Penggunaan dari penggilas ini umumnya untuk mendapatkan permukaan yang agak halus, misalnya pada penggilasan aspal beton dan lain-lain. Tandem roller ini memberikan lintasan yang sama pada masing-masing rodanya, beratnya antara 8-14 ton, penambahan berat yang diakibatkan oleh pengisian zat cair (ballasting) berkisar antara 25% - 60% dari berat penggilas.

⦁ PNEUMATIC TIRED ROLLER
Pneumatic Tired Roller Roda-roda penggilas jenis ini terdiri atas roda-roda ban karet yang dipompa (pneumatic). Susunan dari roda muka dan roda belakang selang-seling sehingga bagian yang tidak tergilas oleh roda bagian depan akan digilas oleh roda bagian belakang. Roda-roda ini menghasilkan "kneading action" (tekanan) terhadap tanah sehingga membantu konsolidasi tanah. Tekanan yang diberikan oleh roda terhadap permukaan tanah dapat diatur dengan cara mengubah tekanan ban. Makin besar tekanan ban, makin besar pula tekanan yang terjadi pada tanah.

⦁ ASPHALT FINISHER
Asphalt finisher adalah alat untuk menghamparkan campuran aspal yang dihasilkan dari alat produksi aspal.

⦁ TOWER CRANE
Pada prinsipnya , tower crane merupakan pesawat pengangkat dan pengangkut yang memiliki mekanisme gerakan yang cukup lengkap, yakni : kemampuan mengangkat muatan (lifting)menggeser (trolleying), menahannya tetap di atas bila diperlukan dan membawa muatan ke tempat yang ditentukan (slewing dan travelling). Operasi kerja yang identik dan muatan yang seragam yang diangkutnya, memungkinkan fasilitas transport dilakukan secara otomatis. Bukan hanya untuk memindahkan, melainkan juga untuk proses bongkar muatan.

2. Perbedaan dan persamaan fungsi alat bulldozer dan motor grader:
BULLDOZER
Bulldozer adalah jenis peralatan konstruksi (biasa disebut alat berat atau construction equipment) bertipe traktor menggunakan Track/ rantai serta dilengkapi dengan pisau (dikenal dengan blade) yang terletak di depan. Bulldozer diaplikasikan untuk pekerjaan menggali, mendorong dan menarik material (tanah, pasir, dsb).
⦁ Membuka jalan baru pada area pegunungan dan daerah – daerah berbatu.
⦁ Sebagai alat angkut jarak pendek, misalnya memindahkan tanah sejauh 300 ft.
⦁ Menarik scraper
⦁ Menghamparkan tanah irisan
⦁ Menumbung kembali trencher
⦁ Sebagai alat untuk pemeliharaan jalan kerja
⦁ Sebagai alat gali, alat angkut, dan alat dorong.



MOTOR GRADER
Motor grader adalah alat berat yang digunakan untuk meratakan jalan, membentuk jalan (grading) yang dibiasa digunakan dalam proyek pembangunan jalan. Motor grader merupakan salah satu alat berat yang sangat penting untuk konstruksi jalan. Grader juga dapat digunakan untuk pengupasan lapisan atas yang hendak dibuang, atau dikurangi, mencampur material dan meratakan/ menyebarkannya lagi. Meratakan area dengan grader sangat diperlukan untuk pemadatan yang sempurna oleh compactor.

⦁ Meratakan dan membentuk permukaan.
⦁ Merawat jalan.
⦁ Mengupas tanah.
⦁ Menyebarkan material ringan






3. Cara kerja Bulldozer:
⦁ Masukan kunci kedalam kontak kunci dan putar ke kanan untuk menghidupkan mesin.
⦁ Cari tuas kontrol transmisi, biasanya ada di sisi kiri kursi pengemudi. Dorong kedepan untuk mengubah transmisi ke forward atau tarik kembali untuk merubah transmisi ke reverse.
⦁ Sesuaikan gigi transmisi dengan kecepatan yang dikehendaki
⦁ Kontrol blade dengan blade controller yang biasanya terlatak pada sisi kanan kursi pengemudi. Dorong kontroler kedepan untuk menurunkan blade atau tarik untuk menaikan blade.
Secara umum itulah cara kerja buldozer. Namun ada satu hal yang perlu dihindari saat menggunakan buldozer. Hindari bekerja dalam keadaan miring kesamping secara terus menerus. Hal ini dikarenakan bekerja dengan keadaan miring ke kiri akan memberikan beban kepada deretan roller pada bagian kiri yang dampaknya merusak roller sebelah kiri. Begitu pula sebaliknya.
Cara kerja buldozer memang terlihat mudah secara teori, namun sebenarnya cukup sulit untuk dilakukan. Dibutuhkan latihan khusus dengan orang yang lebih ahli sebelum menjalankan alat berat ini.  Melihat bentuk buldozer yang sangat besar serta blade pada buldozer yang dapat memotong material, sehingga disarankan untuk tidak asal coba – coba apabila tidak memilki keahlian menjalankan buldozer.

4. Cara kerja Exavator
Bagian Dasar Alat Kontrol Excavator :
a. Tuas / Panel di sebelah Kanan : Untuk mengoperasikan bucket dan boom
⦁ Jika tuas didorong ke depan maka akan menurunkan boom
⦁ Jika tuas ditarik ke belakang maka akan menaikan boom
⦁ Jika tuas digeser ke kiri maka akan menutup bucket
⦁ Jika tuas digeser ke kanan maka akan membuka bucket
b. Tuas / Panel di Sebelah Kiri : Untuk mengoperasikan arah kabin dan arm
⦁ Jika tuas didorong ke depan maka akan menurunkan arm
⦁ Jika tuas ditarik ke belakang maka akan menaikan arm
⦁ Jika tuas digeser ke kiri maka akan menggeser kabin ke kiri
⦁ Jika tuas digeser ke kanan maka akan menggeser kabin ke kanan
c. Lock / Shut-Off Lever (biasanya berada di paling kiri) : Untuk mengunci tuas / panel excavator
⦁ Jika tuas ditarik ke atas maka akan mengunci seluruh kegiatan excavator
⦁ Jika tuas didorong ke bawah maka excavator dapat dioperasikan kembali
d. Tuas / Pedal Track kiri dan kanan (berada di depan) : Untuk maju / mundur dan belok track excavator
⦁ Jika kedua tuas ditarik bersamaan ke belakang maka excavator akan maju
⦁ Jika kedua tuas ditarik bersamaan ke depan maka excavator akan mundur
⦁ Jika tuas kanan ditarik ke belakang maka excavator akan belok ke kiri
⦁ Jika tuas kiri ditarik ke belakang maka excavator akan belok ke kanan

5. Perbedaan fungsi alat berat  Dum truk dengan Trailer:
DUM TRUK
Dump Truck berfunsi sebagai alat angkut material-material bangunan (tanah, besi tulangan, semen, batu bata, dll)

TRAILER
Trailer berfungsi juga sebagai alat angkut, namun dengan kapasitas dan berat diatas dump truck. Misalnya, sebagai alat angkut alat berat.

Sabtu, 21 Oktober 2017

PEMINDAHAN TANAH MEKANIS TUGAS 1

TUGAS PERTAMA
PEMINDAHAN TANAH MEKANIS

1.      Sebutkan tujuan dari pengguna alat berat pada pekerjaan konstruksi?
2.      Apa saja yang perlu diperhatikan dalam persiapan pengguna alat berat pada pekerjaan konstruksi!
3.      Sebutkan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pekerjaan pemindahan tanah !
4.      Berapa % pengembangan dan % penyusutan  dari volume tanah yang memiliki berat isi tanah 1500 kg/m3 BM, 1000 kg/m3 LM dan 2000 kg/m3 CM.
5.      Pada suatu daerah yang akan dibangun jalan, dilakukan penggalian sedalam 2,5 m. luas daerah yang akan di gali 2 Ha. Berapa volume tanah slid an tanah gembur jika faktor gembur adalah 1,25 !













JAWAB
1.      Tujuan dari penggunaan alat berat tersebut adalah untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaan nya, sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah dengan waktu yang relatif lebih singkat.

2.      Yang perlu diperhatikan dalam persiapan pengguna alat berat yaitu :
·         Sasaran pekerjaan yang harus dihasilkan berikut volume, jangka waktu pelaksanaan, dan spesifikasi teknis.
·         Jenis pekerjaan pada proyek
·         Kapasitas peralatan
·         Kondisi medan atau kondisi lapangan
·         Nilai ekonomis penggunaan alat (beli atau sewa).

3.      Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pekerjaan pemindahan tanah:
1)      Perhitungan volume pekerjaan
ü  Volume tanah (tanah asli, tanah lepas, tanah padat)
ü  Jenis tanah.
2)      Spesifikasi pekerjaan
ü  Jenis pekerjaan (galian, timbunan, lean clearing, stripping, pemadatan)
ü  Hasil pekerjaan.
3)      Pemilihan jenis peralatan atau alat yang digunakan
ü  Jenis dan tipe alat
ü  Kapasitas alat
ü  Kemampuan dan suku cadang alat
4)      Perencanaan sumber daya manusia (SDM) = man power.
5)      Mobilisasi peralatan
6)      Perencanaan metode kerja
ü  Organisasi pelaksanaan
ü  Prosedur operasi kerja
ü  Prosedur perawatan peralatan
ü  Prosedur keselamatan kerja
ü  Prosedur pelaporan administrasi dan keuangan
7)      Sarana pendukung di lapangan
ü  Sistim perawatan alat-alat barat
ü  Sistim logistik perawatan
ü  Sistim komunikasi dan informasi kerja

4.      Dik:                B = 1500 kg/m^3
L = 1000 kg/m^3
C = 2000 kg/m^3

            Dit:      Sw dan Sh?
           
            Jawab:
·                            Sw = ((B-L)/L) ×100 % 

Sw =  ((1500-1000)/1000) ×100 %

Sw = 500/1000 ×100 % 

Sw = 50 %

·         Sh = ((C-B)/C) ×100 % 

Sh = ((2000-1500)/2000) ×100 % 

Sh = 500/2000 ×100 % 

Sh = 25 %

·         Jadi,     LF = L/B

LF = 1000/1500 = 0,66

5.      Dik ; kedalaman (T) = 2,5 m
          Luas (A) = 2 HA = 20000 m2
          Faktor tanah gembur =1,25
Dit : a. Volume tanah asli
        b. Volume tanah gembur
jawab :
a.       Volume tanah asli             = luas (A) x kedalaman (T)
                        = 20.000 x 25
= 50.000 m3
b.      Volume tanah gembur       = Volume tanah asli x factor gembur
            = 50.000 x 1,25

            = 62.500 m3

Sabtu, 07 Januari 2017

Tugas Kuliah 4 Ilmu Sosial Dasar
Pembangunan Infrastruktur : Renovasi Saluran Drainase

Pengertian
          Drainase atau pengatusan adalah pembuangan massa air secara alami atau buatan dari permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat. Pembuangan ini dapat dilakukan dengan mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Irigasi dan Drainase merupakan bagian penting dalam penataan sistem penyediaan air dibidang pertanian maupun tata ruang.

             Saluran drainase sering kali dirujuk sebagai drainase saja karena secara teknis hampir semua drainase terkait dengan pembuatan saluran. Saluran drainase permukaan biasanya berupa parit, sementara untuk bawah tanah disebut gorong - gorong di bawah tanah.

          Dalam lingkup rekayasa sipil, drainase dibatasi sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal sesuai dengan kepentingan.

Manfaat
  1.  Pembangunan saluran Drainase digunakan untuk mengalirkan resapan air hujan dalam lingkungan warga menuju ke badan sungai yang terdekat
  2. lingkungan lebih rapi dan tidak becek dan banjir lagi, banyak juga yang merasakan manfaatnya pembangunan drainase ini
  3. Untuk memperbaiki tata ruang desa semoga dengan adanya pembangunan drainase ini bisa bermanfaat bagi warga sekitar pada umumnya
Alasan mengapa harus dibuat Saluran irigasi tersebut karena daerah rumah saya yg memiliki 2 dataran yaitu dataran tinggi dan rendah(dahulu bekas sawah) yg sekarang sudah banyak dibangun rumah tinggal maupun kontrakan menyebabkan berkurangnya daerah resapan, maka dari itu pembangunan saluran drainase ini adalah jalan utama yang harus dilakukan agar tidak mengakibatkan banjir yang lebih buruh dari sebelumnya.

Senin, 10 Oktober 2016

Masalah yang Terjadi di Indonesia

Oleh : Yana Oktafiana

NPM : 17316715

Masalah Sosial Merusak Fasilitas Umum
Fasilitas umum merupakan suatu kebutuhan dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Maka fasilitas umum harus selalu dijaga dan dibersihkan agar nyaman dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Kita menyadari bahwa buruknya fasilitas umum merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan program telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, tetapi masih banyak kita temui beberapa bahkan banyak fasilitas dan pelayanan umum yang kotor dan rusak. Keluhan yang paling sering di disampaikan mengenai buruknya fasilitas umum tersebut adalah rendahnya kualitas pelayanan publik, rendahnya pengawasan dari Pemerintah, dan sistem pelayanan publik yang belum diatur secara jelas dan tegas. fasilitas umum merupakan fasilitas yang diadakan untuk kepentingan umum atau bersama. Dikatakan "fasilitas umum" karena keberadaan wadah atau tempat ini bersifat mempermudah atau memperlancar kebutuhan bersama dari kelompok atau komunitas tertentu. jadi arti dari buruknya fasilitas umum adalah suatu fasilitas yang dibuat untuk masyarakat umum tetapi tidak dapat dijaga dengan baik sehingga menjadi kotor, rusak dan terbengkalai.
        Penyebab buruknya fasilitas umum, sangat erat kaitannya dengan pemerintah dan masyarakat. Disebabkan oleh masyarakat tidak bertanggung jawab yang telah merusak fasilitas umum, serta fasilitas umum yang sudah rapuh termakan usia yang tidak dijaga. Proses rusaknya fasilitas umum dimulai dengan adanya rasa tidak tanggung jawab dari lapisan masyarakat, baik oleh kalangan manapun. Pada proses perbaikan fasilitas, diperlukannya peran Pemerintah untuk mengatasinya, namun tidak sedikit dari golongan tersebut yang hanya menganggap itu hanya masalah perkotaan kecil, mudah, dan tidak segera diatasi. Fakta kerusakan fasilitas umum yang berada di Jakarta atau kota lainnya antara lain :
1. Telepon umum
2. Toilet umum
3. Halte Bus
4. Jembatan penyebarangan Orang (JPO) 
5. Taman Kota 

Upaya untuk mengatasi buruknya fasilitas umum itu sendiri yaitu harus dipelihara dan dijaga oleh pemerintah. Meskipun demikian, masyarakat harus membantu merawat dan menjaga supaya tidak cepat rusak. Kalau ada fasilitas umum yang rusak, hendaknya segera melapor ke pihak berwenang.

Kesimpulannya yaitu fasilitas umum atau pelayanan umum dapat didefinisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat serta cara mengatasinya adalah dengan renovasi fasilitas umum, meningkatkan rasa tanggung jawab masyarakat, menjaga dan merawat fasilitas umum, adanya rasa kepedulian dari masyarakat, dan lain-lain.
Saran  saya fasilitas umum di Indonesia perlu diadakan evaluasi terhadap kinerja infrastruktur dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat di tingkatkan. Di harapakan masyarakat lebih bekerja sama untuk mengawasi kinerja pegawai birokrasi serta melaporkan setiap adanya kejanggalan yang terjadi. Serta masyarakat yang harus ikut meningkatkan rasa tanggung jawab dan menjaga fasilitas umum disekitar dengan kesadaran diri masing-masing.

demikian tugas ini saya buat. Terima Kasih.